Sabtu, 12 Januari 2013

IPM Mesti Bersiap

Setelah mundur dari waktu yang semestinya, akhirnya Muktamar IPM ke-18 sudah menemui titik temunya. Makassar, kota yang sempat dieluh-eluhkan menjadi tuan rumah Mukatamar ini, sepertinya mesti bersabar karena hampir dipastikan Muktamar tidak akan diselenggarakan di kota ini. Padahal, Kota yang berada di propinsi Sulawesi Selatan ini sudah menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan tubuh IPM secara nasional. Nama yang kini muncul dan bergaung adalah Palembang, kota yang berada di Sumatera Selatan. Memang sebelumnya Palembang sangat hangat diperbincangkan karena pernyataan dari PW IPM Sumatera Selatan yang sangat siap menjadi tuan rumah Muktamar IPM ke-18. Mimpi untuk menerima tamu IPM se-Indonesia tampaknya akan segera menjadi kenyataan bagi Palembang. Bulan November kelak akan menjawab semua kesimpangsiuran yang selama ini terjadi.
Yang menjadi pertanyaan terbesar adalah bagaimana IPM akan melangsungkan pergerakannya pasca Muktamar ke-18 kelak setelah beberapa bulan terakhir dikira Pimpinan Pusat IPM berada pada “titik bekunya”. Dari sejumlah kader nusantara yang ada, akankah muncul kader-kader unggulan yang mampu melanjutkan perjuangan mulia meneruskan dakwah di kalangan pelajar. Tidak hanya itu, renstra untuk terus memperjuangkan nilai-nilai mulia itu pun harus menjadi perhatian khusus mengingat IPM merupakan organisasi kader yang akan melanjutkan generasinya untuk menggantikan Muhammadiyah kelak.
Seluruh kader IPM se-Indonesia bertanggungjawab akan hal tersebut. Akan tetapi, Pimpinan Pusat lah yang selayaknya menjadi ujung tombak dari gerakan-gerakan IPM di bumi Indonesia ini. Mempersiapkan IPM menjadi lebih baik dari pada periode sebelumnya selayaknya mulai disusun dari sekarang. Inilah yang idealnya menjadi fokus utama Pimpinan Pusat.
Memang beberapa bulan yang lalu Pimpinan Pusat IPM menyelenggarakan Pelatihan Kader Paripurna untuk kedua kalinya di periode 2010-2012. Namun, apakah dari sejumlah kader paripurna tersebut dapat menjawab semua kegelisahan yang terjadi dalam tubuh IPM? Sekiranya ini yang juga mesti diperhatikan oleh seluruh Pimpinan Wilayah IPM se-Indonesia.
Selain mempersiapkan kader yang kelak akan meneruskan tali estavet regenerasi IPM, sudah saatnya Pimpinan Pusat juga mempersiapkan renstra gerakan yang akan membawa IPM tetap berada dalam garis perjuangannya. Hal inilah yang mulai detik ini harus sudah dirumuskan.
Jika "mungkin" Muktamar diselenggarakan pada bulan November (hal yang memilukan karena tidak sesuai dengan jatah periode), maka masih menyisakan tiga bulan efektif. Berarti, dalam kurun waktu tersebut materi renstra pergerakan sudah mulai disusun, minimal menyelenggarakan pertemuan bersama dengan Pimpinan Wilayah yang mendapatkan amanat menjadi tim materi dalam keputusan Konpiwil tahun lalu. Ya, tapi apakah IPM kini masih memperdulikan materi-materi renstra perjuangan? Ataukah lebih seksi membicarakan tentang suksesi pencalonan yang mementingkn kepentingan masing-masing individu?
Kekuasaan memang lebih menggiurkan untuk diperbincangkan ketimbang memikirkan materi-materi renstra yang kerap kali membutuhkan tenaga lebih untuk memikirkannya. Padahal, renstra inilah yang akan mengarahkan kader-kader IPM ke arah yang sesuai dengan nilai-nilai perjuangan. Itu pun jika seluruh kader masih peduli akan hal tersebut.
Nah, sekiranya masih ada kader IPM yang menjunjung keutuhan organisasi dan mengutamakan ideologi ikatan dan persyarikatan tentunya setiap kader memiliki pekerjaan yang tidak mudah. Kegiatan-kegiatan lokal berkualitas internasional, program-progam bernuansa keislaman, keintelektualan, serta kebangsaan menjadi isu utama gerakan pelajar ini untuk mewujudkan maksud dan tujuannya.(pp_ipm)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar