Setelah mundur dari waktu yang
semestinya, akhirnya Muktamar IPM ke-18 sudah menemui titik temunya.
Makassar, kota yang sempat dieluh-eluhkan menjadi tuan rumah Mukatamar
ini, sepertinya mesti bersabar karena hampir dipastikan Muktamar tidak
akan diselenggarakan di kota ini. Padahal, Kota yang berada di propinsi
Sulawesi Selatan ini sudah menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan
tubuh IPM secara nasional. Nama yang kini muncul dan bergaung adalah
Palembang, kota yang berada di Sumatera Selatan. Memang sebelumnya
Palembang sangat hangat diperbincangkan karena pernyataan dari PW IPM
Sumatera Selatan yang sangat siap menjadi tuan rumah Muktamar IPM ke-18.
Mimpi untuk menerima tamu IPM se-Indonesia tampaknya akan segera
menjadi kenyataan bagi Palembang. Bulan November kelak akan menjawab
semua kesimpangsiuran yang selama ini terjadi.
Yang menjadi pertanyaan terbesar adalah
bagaimana IPM akan melangsungkan pergerakannya pasca Muktamar ke-18
kelak setelah beberapa bulan terakhir dikira Pimpinan Pusat IPM berada
pada “titik bekunya”. Dari sejumlah kader nusantara yang ada, akankah
muncul kader-kader unggulan yang mampu melanjutkan perjuangan mulia
meneruskan dakwah di kalangan pelajar. Tidak hanya itu, renstra untuk
terus memperjuangkan nilai-nilai mulia itu pun harus menjadi perhatian
khusus mengingat IPM merupakan organisasi kader yang akan melanjutkan
generasinya untuk menggantikan Muhammadiyah kelak.
Seluruh kader IPM se-Indonesia
bertanggungjawab akan hal tersebut. Akan tetapi, Pimpinan Pusat lah yang
selayaknya menjadi ujung tombak dari gerakan-gerakan IPM di bumi
Indonesia ini. Mempersiapkan IPM menjadi lebih baik dari pada periode
sebelumnya selayaknya mulai disusun dari sekarang. Inilah yang idealnya
menjadi fokus utama Pimpinan Pusat.
Memang beberapa bulan yang lalu Pimpinan
Pusat IPM menyelenggarakan Pelatihan Kader Paripurna untuk kedua
kalinya di periode 2010-2012. Namun, apakah dari sejumlah kader
paripurna tersebut dapat menjawab semua kegelisahan yang terjadi dalam
tubuh IPM? Sekiranya ini yang juga mesti diperhatikan oleh seluruh
Pimpinan Wilayah IPM se-Indonesia.
Selain mempersiapkan kader yang kelak
akan meneruskan tali estavet regenerasi IPM, sudah saatnya Pimpinan
Pusat juga mempersiapkan renstra gerakan yang akan membawa IPM tetap
berada dalam garis perjuangannya. Hal inilah yang mulai detik ini harus
sudah dirumuskan.
Jika "mungkin" Muktamar diselenggarakan
pada bulan November (hal yang memilukan karena tidak sesuai dengan jatah
periode), maka masih menyisakan tiga bulan efektif. Berarti, dalam
kurun waktu tersebut materi renstra pergerakan sudah mulai disusun,
minimal menyelenggarakan pertemuan bersama dengan Pimpinan Wilayah yang
mendapatkan amanat menjadi tim materi dalam keputusan Konpiwil tahun
lalu. Ya, tapi apakah IPM kini masih memperdulikan materi-materi renstra
perjuangan? Ataukah lebih seksi membicarakan tentang suksesi pencalonan
yang mementingkn kepentingan masing-masing individu?
Kekuasaan memang lebih menggiurkan untuk
diperbincangkan ketimbang memikirkan materi-materi renstra yang kerap
kali membutuhkan tenaga lebih untuk memikirkannya. Padahal, renstra
inilah yang akan mengarahkan kader-kader IPM ke arah yang sesuai dengan
nilai-nilai perjuangan. Itu pun jika seluruh kader masih peduli akan hal
tersebut.
Nah, sekiranya masih ada kader IPM yang
menjunjung keutuhan organisasi dan mengutamakan ideologi ikatan dan
persyarikatan tentunya setiap kader memiliki pekerjaan yang tidak mudah.
Kegiatan-kegiatan lokal berkualitas internasional, program-progam
bernuansa keislaman, keintelektualan, serta kebangsaan menjadi isu utama
gerakan pelajar ini untuk mewujudkan maksud dan tujuannya.(pp_ipm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar